ANALISIS KOMPOSISI PADA OBAT ALLERIN EXPECTORAN

PAPER ANALISIS KOMPOSISI

PADA OBAT ALLERIN EXPECTORAN

(Tugas Kimia Farmasi)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DI SUSUN OLEH  :

 

 

SYLVIA OCTAVIANTI                 K 3306011

 

 

 

 

 

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2009


DAFTAR ISI

 

DAFTAR ISI…………………………………………………………………………………………………………. 1

BAB.I PENDAHULUAN

A. Pengertian Obat………………………………………………………………………………………………….. 2

B. Penyalahgunaan Obat………………………………………………………………………………………….. 3

C. Manfaat Obat…………………………………………………………………………………………………….. 7

D.Batuk……………………………………………………………………………………………………………….. 13

BAB.II OBAT, BAHAN KIMIA DAN KHASIATNYA

A. Gliseril guaiakolat……………………………………………………………………………………………… 15

B. Natrium sitrat……………………………………………………………………………………………………. 15

C. Difenhidramin HCl……………………………………………………………………………………………. 16

D. Fenilpropanolamin HCl……………………………………………………………………………………… 16

E. Alkohol 5 %……………………………………………………………………………………………………… 17

BAB.III REKOMENDASI……………………………………………………………………………………. 18

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………………………………. 19

 

 

 

 

BAB I.

PENDAHLUAN

 

 

A.                PENGERTIAN OBAT

Menurut PerMenKes 917/Menkes/Per/x/1993, obat (jadi) adalah sediaan atau paduan-paduan yang siap digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki secara fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosa, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi. Menurut Ansel (1985), obat adalah zat yang digunakan untuk diagnosis, mengurangi rasa sakit, serta mengobati atau mencegah penyakit pada manusia atau hewan. Obat dalam arti luas ialah setiap zat kimia yang dapat mempengaruhi proses hidup, maka farmakologi merupakan ilmu yang sangat luas cakupannya. Namun untuk seorang dokter, ilmu ini dibatasi tujuannya yaitu agar dapat menggunakan obat untuk maksud pencegahan, diagnosis, dan pengobatan penyakit. Selain itu, agar mengerti bahwa penggunaan obat dapat mengakibatkan berbagai gejala penyakit. (Bagian Farmakologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia). Obat merupakan sediaan atau paduan bahan-bahan yang siap untuk digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan, kesehatan dan kontrasepsi (Kebijakan Obat Nasional, Departemen Kesehatan RI, 2005). Obat merupakan benda yang dapat digunakan untuk merawat penyakit, membebaskan gejala, atau memodifikasi proses kimia dalam tubuh. Obat merupakan senyawa kimia selain makanan yang bisa mempengaruhi organisme hidup,  yang pemanfaatannya bisa untuk mendiagnosis, menyembuhkan, mencegah suatu penyakit.

Obat digolongkan menjadi 4 golongan, yaitu:

1)  Obat Bebas, merupakan obat yang ditandai dengan lingkaran berwarna hijau dengan tepi lingkaran berwarna hitam. Obat bebas umumnya berupa suplemen vitamin dan mineral, obat gosok, beberapa analgetik-antipiretik, dan beberapa antasida. Obat golongan ini dapat dibeli bebas di Apotek, toko obat, toko kelontong, warung.

2)  Obat Bebas Terbatas, merupakan obat yang ditandai dengan lingkaran berwarna biru dengan tepi lingkaran berwarna hitam. Obat-obat yang umunya masuk ke dalam golongan ini antara lain obat batuk, obat influenza, obat penghilang rasa sakit dan penurun panas pada saat demam (analgetik-antipiretik),  beberapa suplemen vitamin dan mineral, dan obat-obat antiseptika, obat tetes mata untuk iritasi ringan. Obat golongan ini hanya dapat dibeli di Apotek dan toko obat berizin.

3)  Obat Keras, merupakan obat yang pada kemasannya ditandai dengan lingkaran yang didalamnya terdapat huruf K berwarna merah yang menyentuh tepi lingkaran yang  berwarna hitam. Obat keras merupakan obat yang hanya bisa  didapatkan dengan resep dokter. Obat-obat yang umumnya masuk ke dalam golongan ini antara lain obat jantung, obat darah tinggi/hipertensi, obat darah rendah/antihipotensi, obat diabetes, hormon, antibiotika, dan beberapa obat ulkus lambung. Obat golongan  ini hanya dapat diperoleh di Apotek dengan resep dokter.

4)  Obat Narkotika, merupakan zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintesis maupun semi sintesis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan (UURI No. 22 Th 1997 tentang Narkotika). Obat ini pada kemasannya ditandai dengan lingkaran yang didalamnya terdapat palang (+) berwarna merah. Obat Narkotika bersifat adiksi dan penggunaannya diawasi dengan ketet, sehingga obat golongan narkotika hanya diperoleh di Apotek dengan resep dokter asli (tidak dapat menggunakan kopi resep). Contoh dari obat narkotika antara lain: opium, coca, ganja/marijuana, morfin, heroin, dan lain sebagainya. Dalam bidang kesehatan, obat-obat narkotika biasa digunakan sebagai anestesi/obat bius dan analgetik/obat penghilang rasa sakit.

 

B.                 PENYALAHGUNAAN OBAT

Penggunaan obat-obatan untuk keperluan selain pengobatan disebut penyalahgunaan obat. Suatu jenis obat semestinya digunakan secara tepat bilamana diperoleh dengan resep untuk dan digunakan sesuai rekomendasi dan tujuan pengobatan. Selain itu, disebut penyalahgunaan obat. Menurut WHO penyalahgunaan obat adalah penggunaan obat secara berlebihan untuk tujuan lain selain untuk penyembuhan. Semua jenis obat pada dasarnya memiliki potensi untuk disalahgunakan dan setiap obat memiliki potensi berbahaya jika disalahgunakan. Penggunaan obat secara ilegal juga termasuk kategori penyalahgunaan obat. Menggunakan obat antibiotik yang diresepkan untuk orang lain merupakan salah satu bentuk penggunaan obat yang salah atau digunakan untuk tujuan lain.

Psikotropika

Obat psychoactive adalah obat yang efeknya mengubah pikiran dan perilaku dan dapat menimbulkan ketergantungan obat. Obat psikotropika atau psikoaktif adalah senyawa atau obat baik alamiah maupun sintetis, bukan narkotika, yang bersifat atau berkhasiat psikoaktif. Obat yang berkhasiat psikoaktif adalah obat yang dapat menurunkan aktivitas otak atau merangsang susunan saraf pusat dan menimbulkan kelainan perilaku, disertai dengan timbulnya halusinasi (mengkhayal), ilusi, gangguan cara berpikir, perubahan alam perasaan dan dapat menyebabkan ketergantungan serta mempunyai efek stimulasi (merangsang)

bagi para pemakainya.  Obat-obatan psikotropika merupakan salah satu golongan obat yang sering disalahgunakan karena sulit mencari Narkotika dan mahal harganya. Penggunaan psikotropika biasanya dicampur dengan alkohol atau minuman lain seperti air mineral, sehingga menimbulkan efek yang sama dengan Narkotika.

Akibat penyalahgunaan psikotropika

Berbagai efek yang ditimbulkan dari akibat penyalahgunaan obat psikotropika adalah:

1. Overdosis atau disingkat OD adalah suatu kondisi kelebihan takaran obat yang menyebabkan koma, shock, atau kematian.

2. Penyalahguna obat biasanya menunjukkan beberapa bentuk kelainan mental.

Efek farmakologi dari ecstasi tidak hanya bersifat stimulant tapi juga mempunyai sifat halusinogenik yaitu menimbulkan khayalan-khayalan nikmat dan menyenangkan, secara rincinya adalah:

1. Meningkatkan daya tahan tubuh.

2. Meningkatkan kewaspadaan.

3. Menimbulkan rasa nikmat dan bahagia semu.

4. Menimbulkan khayalan yang menyenangkan.

5. Menurunkan emosi.

Efek samping yang berlebihan adalah:

1. Muntah dan mual.

2. Gelisah.

3. Sakit kepala.

4. Nafsu makan berkurang.

5. Denyut jantung berkurang.

6. Timbul khayalan yang menakutkan.

7. Kejang-kejang.

Narkotika/ Narkoba

Narkotika adalah senyawa atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semi-sintetis yang dapat menimbulkan pengaruh-pengaruh tertentu bagi mereka yang menggunakannya  dengan memasukkannya ke dalam tubuh.  Istilah narkotika berasal dari kata narkotikos (bahasa Yunani) yang berarti menggigil. Istilah narkotika ada hubungannya dengan kata narkan (bahasa Yunani) yang berarti menjadi kaku. Dalam dunia kedokteran dikenal juga istilah narkose atau narkosis yang berarti dibiuskan. Obat narkose yaitu obat yang dipakai untuk pembiusan dalam pembedahan.

Di dalam Undang-Undang RI. Nomor 22 Tahun 1997 tanggal 1 September 1997 tentang Narkotika, menyatakan bahwa Narkotika hanya dapat digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan ilmu pengetahuan termasuk kepentingan lembaga penelitian atau pendidikan saja, sedangkan pengadaan impor atau ekspor, peredaran dan pemakaiannya diatur oleh Pemerintah, dalam hal ini

Departemen Kesehatan.  Akibat penyalahgunaan narkoba yang disuntikan ke dalam tubuh. Narkotika dapat dibuat dalam berbagai bentuk, rasa, dan penampilan. Ada yang berupa pil, cairan, bubuk, dan sebagainya. Namun sekarang ada juga narkoba yang dibentuk menjadi permen berwarna-warni dan punya aneka rasa.

Memahami Efek Ketergantungan Narkoba

Ketergantungan Narkoba merupakan suatu penyakit kompleks yang ditandai oleh adanya keinginan kuat untuk selalu memakai obat (craving) meskipun disadari akan berbahaya dan dapat mengancam kehidupannya. Penyakit ini bersifat menahun dan sering kambuh walaupun ada periode abstinensia untuk waktu yang cukup lama.  Namun demikian, disamping efek-efek jangka lama yang mungkin timbul perlahan-lahan, pengguna narkoba juga sangat mungkin mengalami keadaan darurat yang membutuhkan pertolongan segera, antara lain overdosis dan sakaw.

Overdosis

Obat-obatan yang sering dipakai untuk mabuk mempunyai efek pada kerja otak. Karena otak mengendalikan bagian lain dan fungsi dari tubuh – seperti paru-paru yang membuat oksigen tidak beredar ke darah, ginjal dan hati yang menetralkan racun dari tubuh, dan jantung yang memompa darah ke seluruh tubuh-menggunakan drugs dapat mempengaruhi satu atau lebih dari aktivitas fungsi tubuh yang penting ini, untuk membuat seseorang mabuk.  Tubuh seseorang biasanya dapat menyesuaikan dengan perubahan ini, tetapi jumlah/kadar obat yang dipakai terlampau banyak, perubahannya bisa melebihi kemampuan tubuh dalam menyesuaikannya diri dan menimbulkan efek samping yang seringkali berbahaya.  Beberapa efek samping yang terjadi dari pemakaian drugs yang berlebihan adalah serius, tetapi tidak dirasakan secara langsung. Hati dan ginjal dapat rusak karena pemakaian drugs ini membuat organ-organ akan bekerja lebih keras.  Dan untuk menghilangkan efek dan kerusakan dari drugs tersebut membutuhkan waktu bertahun-tahun. Tetapi jika otak terlalu banyak memperoleh obat-obatan dalam waktu yang relatif singkat, efek samping yang muncul dapat sangat berbahaya seperti hilangnya kesadaran, berhentinya pernafasan, gagal jantung, serangan jantung-termasuk tentunya, kematian. Inilah yang disebut overdosis dari obat-obatan.  Overdosis sangat serius tetapi tidak perlu berakhir fatal jika ditangani dengan cepat dan tepat. Siapa saja yang memakai bisa overdosis, orang yang baru pertama kali menggunakan sampai orang yang telah bertahun-tahun menggunakan obat.

Sakaw

Ketergantungan fisik merupakan suatu fenomena alami bila seseorang menggunakan suatu obat (biasanya golongan opioid seperti morfin dll) dalam dosis yang cukup besar dan berjangka lama. Sel-sel tubuh yang terpajan obat akan beradaptasi sehingga terdapat suatu keseimbangan biologis yang baru.  Penghentian penggunaan opioid secara tiba-tiba pada seseorang yang sudah bergantung pada opioid dalam jangka lama akan menimbulkan reaksi putus obat dengan gejala-gejala:

Tingkat Gejala
Tingkat 0 craving, ansietas
Tingkat I menguap, lakrimasi, rinorea, berkeringat
Tingkat II midriasis, piloereksi, anoreksia, tremor, panas dingin
Tingkat III peningkatan keluhan dan gejala, suhu meningkat, tekanan darah dan nadi meningkat, napas cepat dan dalam, ejakulasi/orgasme spontan

 

Gejala putus obat ini merupakan pengalaman yang sangat tidak mengenakkan walaupun tidak mematikan. Reaksi gejala putus obat berlangsung sekitar 5-10 hari.

 

C.                MANFAAT OBAT

 

Obat merupakan salah satu komponen yang tidak dapat tergantikan dalam pelayanan kesehatan. Obat berbeda dengan komoditas perdagangan, karena selain merupakan komoditas perdagangan, obat juga memiliki fungsi sosial. Obat berperan sangat penting dalam pelayanan kesehatan karena penanganan dan pencegahan berbagai penyakit tidak dapat dilepaskan dari tindakan terapi dengan obat atau farmakoterapi. Seperti yang telah dituliskan pada pengertian obat diatas, maka peran obat secara umum adalah sebagai berikut:

1)  Penetapan diagnosa

2)  Untuk pencegahan penyakit

3)  Menyembuhkan penyakit

4)  Memulihkan (rehabilitasi) kesehatan

5)  Mengubah fungsi normal tubuh untuk tujuan tertentu

6)  Peningkatan kesehatan

7)  Mengurangi rasa sakit

Bentuk-bentuk obat serta tujuan penggunaannya antara lain adalah sebagai berikut:

a.  Pulvis (Serbuk)

Merupakan campuran kering bahan obat atau zat kimia yang dihaluskan, ditujukan untuk pemakaian oral atau untuk pemakaian luar.

b.  Pulveres

Merupakan serbuk yang dibagi dalam bobot yang lebih kurang sama, dibungkus menggunakan bahan pengemas yang cocok untuk sekali minum.

c.  Tablet (Compressi)

Merupakan sediaan padat kompak dibuat secara kempa cetak dalam bentuk tabung pipih atau sirkuler kedua permukaan rata atau cembung mengandung satu jenis obat atau lebih dengan atau tanpa bahan tambahan.

1)  Tablet Kempa   paling banyak digunakan, ukuran dapat bervariasi, bentuk serta penandaannya tergantung design cetakan .

2)  Tablet Cetak   dibuat dengan memberikan tekanan rendah pada massa lembab dalam lubang cetakan.

3)  Tablet Trikurat   tablet kempa atau cetak bentuk kecil umumnya silindris. Sudah jarang ditemukan

4)  Tablet Hipodermik   dibuat dari bahan yang mudah larut atau melarut sempurna dalam air. Dulu untuk membuat sediaan injeksi hipodermik, sekarang diberikan secara oral.

5)  Tablet Sublingual   dikehendaki efek cepat (tidak lewat hati). Digunakan dengan meletakkan tablet di bawah lidah.

6)  Tablet Bukal   digunakan dengan meletakkan di antara pipi dan gusi.

7)  Tablet Efervescen   tablet larut dalam air. Harus dikemas dalam wadah tertutup rapat atau kemasan tahan lembab. Pada etiket tertulis “tidak untuk langsung ditelan”.

8)  Tablet Kunyah   cara penggunaannya dikunyah. Meninggalkan sisa rasa enak di rongga mulut, mudah ditelan, tidak meninggalkan rasa pahit, atau tidak enak.

d.  Pilulae (PIL)

Merupakan bentuk sediaan padat bundar dan kecil mengandung bahan obat dan dimaksudkan untuk pemakaian  oral. Saat ini sudah jarang ditemukan karena tergusur tablet dan kapsul. Masih banyak ditemukan pada seduhan jamu.

e.  Kapsulae (Kapsul)

Merupakan sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras atau lunak yang dapat larut. Keuntungan/tujuan sediaan kapsul yaitu:

1)  Menutupi bau dan rasa yang tidak enak

2)  Menghindari kontak langsung dengan udara dan sinar matahari

3)  Lebih enak dipandang

4)  Dapat untuk 2 sediaan yang tidak tercampur secara fisis (income fisis), dengan pemisahan antara lain menggunakan kapsul lain yang lebih kecil kemudian dimasukkan bersama serbuk lain ke dalam kapsul yang lebih besar.

5)  Mudah ditelan.

f.  Solutiones (Larutan)

Merupakan sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang dapat larut, biasanya dilarutkan dalam air, yang karena bahan-bahannya, cara peracikan atau penggunaannya, tidak dimasukkan dalam golongan produk lainnya (Ansel). Dapat juga dikatakan sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang larut, misalnya terdispersi secara molekuler dalam pelarut yang sesuai atau campuran pelarut yang saling bercampur. Cara penggunaannya yaitu larutan oral (diminum) dan larutan topikal (kulit).

g.  Suspensi

Merupakan sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut terdispersi dalam fase cair. Macam suspensi antara lain: suspensi oral (juga termasuk susu/magma), suspensi topikal (penggunaan pada kulit), suspensi tetes telinga (telinga bagian luar), suspensi optalmik, suspensi sirup kering.

h.  Emulsi

Merupakan sediaan berupa campuran dari dua fase cairan dalam sistem dispersi, fase cairan yang satu terdispersi sangat halus dan merata dalam fase cairan lainnya, umumnya distabilkan oleh zat pengemulsi.

i.  Galenik

Merupakan sediaan yang dibuat dari bahan baku yang berasal dari hewan atau tumbuhan yang disari.

j.  Extractum

Merupakan sediaan pekat yang diperoleh dengan mengekstraksi zat dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian sehingga memenuhi baku yang ditetapkan.

k.  Infusa

Merupakan sediaan cair yang dibuat dengan mengekstraksi simplisia 0 °C selama 15 menit. nabati dengan air pada suhu 90°C

l.  Immunosera (Imunoserum)

Merupakan sediaan yang mengandung Imunoglobin khas yang diperoleh dari serum hewan dengan pemurnian.  Berkhasiat menetralkan toksin kuman (bisa ular) dan mengikat kuman/virus/antigen.

m. Unguenta (Salep)

Merupakan sediaan setengah padat  ditujukan untuk pemakaian topikal pada kulit atau selaput lendir. Dapat juga dikatakan sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan digunakan sebagai obat luar. Bahan obat harus larut atau terdispersi homogen dalam dasar salep yang cocok.

n.  Suppositoria

Merupakan sediaan padat dalam  berbagai bobot dan bentuk, yang diberikan melalui rektal, vagina atau uretra, umumnya meleleh, melunak atau melarut pada suhu tubuh. Tujuan pengobatan yaitu:

1)  Penggunaan lokal   memudahkan defekasi serta mengobati gatal, iritasi, dan inflamasi karena hemoroid.

2)  Penggunaan sistemik   aminofilin dan teofilin untuk asma, chlorprozamin untuk anti muntah, chloral hydrat untuk sedatif dan hipnotif, aspirin untuk analgenik antipiretik.

o.  Guttae (Obat Tetes)

Merupakan sediaan cairan berupa larutan, emulsi, atau suspensi, dimaksudkan untuk obat dalam atau obat luar, digunakan dengan cara meneteskan menggunakan penetes yang menghasilkan tetesan setara dengan tetesan yang dihasilkan penetes beku yang disebutkan Farmacope Indonesia. Sediaan obat tetes dapat  berupa antara lain: Guttae (obat dalam), Guttae Oris (tets mulut), Guttae Auriculares (tetes telinga), Guttae Nasales (tetes hidung), Guttae Ophtalmicae (tetes mata).

p.  Injectiones (Injeksi)

Merupakan sediaan steril berupa larutan, emulsi atau suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan, yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir. Tujuannya yaitu kerja obat cepat serta dapat diberikan pada pasien yang tidak dapat menerima pengobatan melalui mulut.

Cara pemberian obat serta tujuan penggunaannya adalah sebagai

berikut:

a.  Oral

Obat yang cara penggunaannya masuk melalui mulut. Keuntungannya relatif aman, praktis, ekonomis. Kerugiannya timbul efek lambat; tidak bermanfaat untuk pasien yang sering muntah, diare, tidak sadar, tidak kooperatif; untuk obat  iritatif dan rasa tidak enak penggunaannya terbatas; obat yang inaktif/terurai oleh cairan lambung/ usus tidak bermanfaat (penisilin G, insulin); obat absorpsi tidak teratur.

Untuk tujuan terapi serta efek sistematik yang dikehendaki, penggunaan oral adalah yang paling menyenangkan dan murah, serta umumnya paling aman. Hanya beberapa obat yang mengalami perusakan oleh cairan lambung atau usus. Pada keadaan pasien muntah-muntah, koma, atau dikehendaki onset yang cepat, penggunaan obat melalui oral tidak dapat dipakai.

b.  Sublingual

Cara penggunaannya, obat ditaruh dibawah lidah. Tujuannya supaya efeknya lebih cepat karena pembuluh darah bawah lidah merupakan pusat sakit. Misal pada kasus pasien jantung. Keuntungan cara ini efek obat cepat serta kerusakan obat di saluran cerna dan metabolisme di dinding usus dan hati dapat dihindari (tidak lewat vena porta) .

c.  Inhalasi

Penggunaannya dengan cara disemprot (ke mulut). Misal obat asma. Keuntungannya yaitu absorpsi terjadi cepat dan homogen, kadar obat dapat dikontrol, terhindar dari efek lintas pertama, dapat diberikan langsung pada bronkus. Kerugiannya yaitu, diperlukan alat dan metoda khusus, sukar mengatur dosis, sering mengiritasi epitel paru – sekresi saluran nafas, toksisitas pada jantung. Dalam inhalasi, obat dalam keadaan gas atau uap yang akan diabsorpsi sangat cepat melalui alveoli paru-paru dan membran mukosa pada perjalanan pernafasan.

d.  Rektal

Cara penggunaannya melalui dubur atau anus. Tujuannya mempercepat kerja obat serta sifatnya lokal dan sistemik. Obat oral sulit/tidak dapat dilakukan karena iritasi lambung, terurai di lambung, terjadi efek lintas pertama. Contoh, asetosal, parasetamol, indometasin, teofilin, barbiturat.

e.  Pervaginam

Bentuknya hampir sama dengan obat rektal, dimasukkan ke vagina, langsung ke pusat sasar. Misal untuk keputihan atau jamur.

f.  Parentral

Digunakan tanpa melalui mulut, atau dapat dikatakan obat dimasukkan de dalam tubuh selain saluran cerna. Tujuannya tanpa melalui saluran pencernaan dan langsung ke pembuluh darah. Misal suntikan atau insulin. Efeknya biar langsung sampai sasaran. Keuntungannya yaitu dapat untuk pasien yang tidak sadar, sering muntah, diare, yang sulit menelan/pasien yang tidak kooperatif; dapat untuk obat yang mengiritasi lambung; dapat menghindari kerusakan obat di saluran cerna dan hati; bekerja cepat dan dosis ekonomis. Kelemahannya yaitu kurang aman, tidak disukai pasien, berbahaya (suntikan – infeksi). Istilah injeksi termasuk semua bentuk obat yang digunakan secara parentral, termasuk infus. Injeksi dapat berupa larutan, suspensi, atau emulsi. Apabila obatnya tidak stabil dalam cairan, maka dibuat dalam bentuk kering. Bila mau dipakai baru ditambah aqua steril untuk memperoleh larutan atau suspensi injeksi.

g.  Topikal/lokal

Obat yang sifatnya lokal. Misal tetes mata, tetes telinga, salep.

h.  Suntikan

Diberikan bila obat tidak diabsorpsi di saluran cerna serta dibutuhkan kerja cepat.

Tabel Penggunaan Bentuk Sediaan

Cara Pemberian Bentuk Sediaan Utama
Oral Tablet, kapsul, larutan  (sulotio), sirup, eliksir, suspensi, magma, jel, bubuk
Sublingual Tablet, trokhisi dan tablet hisap
Parentral Larutan, suspensi
Epikutan/transdermal Salep, krim, pasta, plester, bubuk, erosol, latio, tempelan transdermal, cakram, larutan, dan solutio
Konjungtival Salep
Introakular/intraaural Larutan, suspensi
Intranasal Larutan, semprot, inhalan, salep
Intrarespiratori Erosol
Rektal Larutan, salep, supositoria
Vaginal Larutan, salep, busa-busa emulsi, tablet, sisipan, supositoria, spon
Uretral Larutan, supositoria

Sumber: Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi (Howard C. Ansel)

 

D.                BATUK

Batuk merupakan refleks yang terangsang oleh iritasi paru-paru atau saluran

pernapasan. Bila terdapat benda asing selain udara yang masuk atau merangsang saluran pernapasan, otomatis akan batuk untuk mengeluarkan atau menghilangkan benda tersebut. Batuk biasanya merupakan gejala infeksi saluran  pernapasan  atas (misalnya batuk-pilek, flu) dimana sekresi hidung dan dahak merangsang saluran pernapasan. Batuk juga merupakan cara untuk menjaga jalan pernapasan tetap bersih. Ada dua jenis batuk yaitu batuk berdahak dan batuk kering. Batuk berdahak adalah batuk yang disertai dengan keluarnya dahak dari batang tenggorokan. Batuk kering adalah batuk yang tidak disertai keluarnya dahak.

Gejala-gejala

– Pengeluaran udara dari saluran pernapasan secara kuat, yang mungkin disertai dengan pengeluaran dahak

–  Tenggorokan sakit dan gatal

 

Penyebab

Batuk dapat disebabkan oleh beberapa hal antara lain :

a. Infeksi

Produksi dahak yang sangat banyak karena infeksi saluran pernapasan. Misal flu, bronkhitis, dan penyakit yang cukup serius meskipun agak jarang yaitu pneumonia, TBC dan kanker paru-paru.

b.  Alergi

– Masuknya benda asing secara tidak sengaja ke dalam saluran pernapasan .   Misal : debu, asap, cairan dan makanan

–  Mengalirnya cairan hidung ke arah tenggorokan dan masuk ke saluran pernapasan    Misal : rinitis alergika, batuk pilek

–  Penyempitan saluran pernapasan misal pada asma

Hal Yang Dapat Dilakukan

1. Minum banyak cairan (air atau sari buah) akan menolong membersihkan tenggorokan, jangan minum soda atau kopi.

2. Hentikan kebiasaan merokok

3. Hindari makanan yang merangsang tenggorokan (makanan dingin atau berminyak) dan udara malam.

4. Madu dan tablet hisap pelega tenggorokan dapat menolong meringankan iritasi tenggorokan dan dapat membantu mencegah batuk kalau tenggorokan anda kering atau pedih.

5. Hirup uap air panas (dari semangkuk air panas) untuk mencairkan sekresi hidung yang kental supaya mudah dikeluarkan. Dapat juga ditambahkan sesendok teh balsam/minyak atsiri untuk membuka sumbatan saluran pernapasan.

6. Minum obat batuk yang sesuai

7. Bila batuk lebih dari 3 hari belum sembuh segera ke dokter

8. Pada bayi dan balita bila batuk disertai napas cepat atau sesak harus segera dibawa ke dokter atau pelayanan kesehatan.

Obat Yang Dapat Digunakan

Obat batuk dibagi menjadi 2 yaitu ekspektoran (pengencer dahak) dan antitusif (penekan batuk).

BAB II.

OBAT, BAHAN KIMIA DAN KHASIATNYA

 

Untuk analisis ini digunakan obat batu expectoran “Allerin” yang mempunyai komposisi Per 5 ml : Gliseril guaiakolat 50 mg, Natrium sitrat 180 mg, Difenhidramin HCl 12,5 mg, Fenilpropanolamin HCl 12,5 mg, Alkohol 5 % dengan uraian sebagai berikut:

 

A.          GLISERIL GUAIAKOLAT

 

a. Kegunaan obat

Selain berfungsi sebagai ekspektorans (Mengencerkan lendir saluran napas), obat ini juga mem-perbaiki pembersihan mukosilier.

b. Hal yang harus diperhatikan :

Hati-hati atau minta saran dokter untuk penggunaan bagi anak di bawah 2 tahun dan ibu hamil.

c.  Aturan pemakaian

Dewasa : 1-2 tablet (100 -200 mg), setiap 6 jam atau 8 jam sekali

Anak      : 2-6 tahun  : ½ tablet (50 mg) setiap 8 jam

6-12 tahun  : ½ – 1 tablet (50-100 mg) setiap 8 jam

Obat ini jarang menunjukkan efek samping. Pada dosis besar dapat terjadi mual, muntah dan pusing.

 

B.           NATRIUM SITRAT

Natrium Sitrat merupakan ekspektoran ringan bekerja dalam merangsang pengeluaran sekret dari saluran pernafasan. Ekspektoran adalah obat yang meningkatkan jumlah cairan dan merangsang pengeluaran sekret dari saluran napas. Hal ini dilakukan dengan beberapa cara, yaitu melalui :
stimulasi topikal dengan inhalasi zat

–          refleks vagal gaster

–          perangsangan vagal kelenjar mukosa bronkus

–          perangsangan medulla

Refleks vagal gaster adalah pendekatan yang paling sering dilakukan untuk merangsang pengeluaran cairan bronkus. Mekanisme ini memakai sirkuit refleks dengan reseptor vagal gaster sebagai afferen dan persarafan vagal kelenjar mukosa bronkus sebagai efferen.

 

C.          DIFENHIDRAMIN HCL

 

a. Kegunaan obat

Penekan batuk dan mempunyai efek antihistamin (antialergi) dan mempunyai manfaat mengurangi batuk kronik pada bronkitis.

b. Hal yang harus diperhatikan

–  Karena menyebabkan kantuk, jangan mengoperasikan mesin selama meminum obat ini .

–  Konsultasikan ke dokter atau Apoteker untuk penderita asma,  ibu hamil, ibu menyusui dan bayi/anak.

c. Efek Samping

Pengaruh pada kardiovaskular dan SSP seperti sedasi, sakit kepala, gangguan psikomotor, gangguan darah, gangguan saluran cerna, reaksi alergi, efek antimuskarinik seperti retensi urin, mulut kering, pandangan kabur dan gangguan saluran cerna, palpitasi dan aritmia, hipotensi, reaksi hipersensitivitas, ruam kulit, reaksi fotosensitivitas, efek ekstrapiramidal, bingung, depresi, gangguan tidur, tremor, konvulsi, berkeringat dingin, mialgia, paraestesia, kelainan darah, disfungsi hepar, dan rambut rontok.

d. Aturan Pemakaian

Dewasa :  1-2 kapsul (25-50 mg) setiap 8 jam

Anak  :  ½ tablet (12,5 mg) setiap 6-8 jam

 

D.          FENILPROPANOLAMIN HCL

 

a. Kegunaan Obat

Mengurangi hidung tersumbat

b. Hal yang harus diperhatikan

Hati-hati pada penderita diabet juvenil karena dapat meningkatkan kadar gula darah, penderita tiroid, hipertensi, gangguan jantung dan penderita yang menggunakan antidepresi. Mintalah saran dokter atau Apoteker.

c. Kontra Indikasi

Obat tidak boleh digunakan pada penderita insomnia (sulit tidur), pusing, tremor, aritmia dan penderita yang menggunakan MAO  (mono amin oksidase) inhibitor.

d. Efek samping

Menaikkan tekanan darah terutama  pada penderita penyakit jantung dan pembuluh darah.

e. Aturan pemakaian

Dewasa    :  maksimal 15 mg per takaran 3-4 kali sehari

Anak-anak  6-12 tahun   :  maksimal 7,5 mg per takaran 3-4 kali zaherí

 

E.           ALKOHOL 5 %

 

Seorang pakar farmasi Drs Chilwan Pandji Apt Msc, fungsi alkohol adalah untuk melarutkan atau mencampur zat-zat aktif, selain sebagai pengawet agar obat lebih tahan lama. Dosen Teknologi Industri Pertanian IPB itu menambahkan, Berdasarkan penelitian di laboratorium diketahui bahwa alkohol dalam obat batuk tidak memiliki efektivitas terhadap proses penyembuhan batuk, sehingga dapat dikatakan bahwa alkohol tidak berpengaruh secara signifikan terhadap penurunan frekuensi batuk yang kita alami.

Sedangkan salah seorang praktisi kedokteran, dr Dewi mengatakan, Efek ketenangan akan dirasakan dari alkohol yang terdapat dalam obat batuk, yang secara tidak langsung akan menurunkan tingkat frekuensi batuknya. Akan tetapi bila dikonsumsi secara terus menerus akan menimbulkan ketergantungan pada obat tersebut. Berdasarkan informasi tersebut sebenarnya alkohol bukan satu-satunya bahan yang harus ada dalam obat batuk. Ia hanya sebagai penolong untuk ekstraksi atau pelarut saja.

 

 

BAB III.

REKOMENDASI

 

Obat ini sangat bagus jiga digunakan untuk sakit batuk berdahak karena mengandung Gliseril Guaiakolat dan Natrium Sitrat yang berfungsi sebagai ekspektoran. Didalam obat ini juga terdapat Difenhidramin HCl yang berfungsi sebagai anti alergi, sehingga cukup aman digunakan oleh semua orang tanpa menyebabkan alergi. Selain itu terdapat Fenilpropanolamin HCl yang dapat mengurangi hidung tersumbat, tidak jarang orang yang batuk juga mengalami hidung tersumbat. Dan terdapat Alkohol sebanyak 5 % sebagai pelarut aktif dan pemberi rasa tenang.

Ibarat pedang bermata dua, obat ini juga mempunyai efek samping. Seperti Gliseril Guaiakolat dan Natrium Sitrat pada dosis besar dapat menimbulkan pusing, mual dan muntah. Difenhidramin HCl dapat menyebabkan pengaruh pada kardiovaskular dan SSP. Fenilpropanolamin HCl juga menyebabkan naiknya tekanan darah dan membesarnya pembuluh darah. Sedangkan Alkohol jika sering dikonsumsi dapat menyebabkan ketagihan.

Dari berbagai kemungkinan yang dapat ditimbulkan maka sangat disarankan kepada yang terutama mempunyai penyakit jantung, hipertensi, tiroid diabetes, ibu hamil, dan anak-anak meminta saran dokter atau apoteker sebelum memakai obat ini. Sedangkan untuk orang yang sedang mengendarai kendaraan disarankan tidak meminum obat ini karena dapat menyebabkan mengantuk.


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Direktorat Bina Farmasi Komunitas Dan Klinik Ditjen Bina Kefarmasian  Dan Alat Kesehatan Departemen Kesehatan. 2006. Pedoman Penggunaan Obat Bebas dan Bebas Terbatas. Jakarta : Departemen Kesehatan

 

Nurcahyo, Heru. 2008. Ilmu Kesehatan Jilid 2 Untuk SMK. Jakarta : Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan MenengahDepartemen Pendidikan Nasional

 

Sanjoyo, Raden. Obat Biomedik Farmakologi . http://www.yoyoke.web.ugm.ac.id

[tanggal 17 Mei 2009]

 

WS, Sriwidodo. 1993. Cermin Dunia Kedokteran ”Pernafasan dan lingkungan”. Jakarta : Grup PT. Kalbe Farma

 

Farmasi. Sanadryl Expectoran 120 ml. http://www.dechacare.com/informasi-obat.php   [tanggal 17 Mei 2009]

 

Vinadanvani. 2008. Alkohol dalam Obat Batuk. http://id.wordpress.com/tag/obat-obatan/ [tanggal 17 Mei 2009]

 

Blog Archive. 2008. Batuk. http://hsilkma.blogspot.com/2008/03/batuk.html [tanggal 17 Mei 2009]

One thought on “ANALISIS KOMPOSISI PADA OBAT ALLERIN EXPECTORAN

  1. Pingback: Free Japan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s