Contoh LPJ

 

PEMETAAN WILAYAH YANG BELUM MENIKMATI AIR BERSIH

DI TIGA KECAMATAN, KARANGANYAR, JATEN, JUMAPOLO

BEKERJA SAMA DENGAN PDAM KARANGANYAR

DI KABUPATEN KARANGANYAR

TAHUN 2010

 

 

 

 

 

 

 

BIRO INVESTIGASI ANGGARAN RAKYAT

(BIAR_foundation)

Perumahan Ringinasri Blk.C No. 132 Bejen Karanganyar

 

KATA PENGANTAR

 

Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas selesainya pemetaan wilayah yang belum bisa menikmati air bersih di tiga Kecamatan yaitu Kecamatan Karanganyar, Kecamatan Jaten dan Kecamatan Jumapolo yang bekerja sama dengan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Karanganyar.

Terima kasih kami ucapkan kepada rekan – rekan  Aparat Desa dan instansi terkait pemerintahan Kabupaten Karangnyar yang telah memberikan dukungan baik data maupun pemikirannya, terima kasih pula kepada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang telah memberikan bantuan program kepada kami dan terimakasih kepada semua pihak – pihak yang telah mendukung keberhasilan kegiatan ini.

Sebelumnya kami minta maaf yang sebesar – besarnya kepada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Karanganyar karena keterbatasan Team dalam menyelesaikan kegiatan ini.

Semoga dengan hasil kegiatan ini dapat membawa perubahan yang lebih baik pada masyarakat yang belum bisa menikmati air bersih untuk kelangsungan hidup yang lebih sehat dan terjalin kerjasama yang lebih erat antara pihak PDAM dengan masyarakat. Mohon saran dan kritik untuk perbaikan kegiatan – kegiatan selanjutnya.

 

 

Karanganyar, 25 Desember 2010

 

 

Biro Investigasi Anggaran Rakyat (BIAR_fonundation)

 

Ketua

 

 

 

Hasan Fatoni

Sekretaris

 

 

 

Heri Susanto

 

DAFTAR ISI

 

 

A.    PENDAHULUAN………………………………………………………………………………………….. 1

1.       Dasar Pemikiran…………………………………………………………………………………………. 1

2.       Latar Belakang…………………………………………………………………………………………… 2

3.       Repository…………………………………………………………………………………………………. 3

B.    TUNJUAN  PENELITIAN………………………………………………………………………………. 3

1.       Umum………………………………………………………………………………………………………. 3

2.       Khusus……………………………………………………………………………………………………… 3

C.    METODE  PENELITIAN………………………………………………………………………………… 3

1.       Konsep Keluaran……………………………………………………………………………………….. 3

2.       Metode……………………………………………………………………………………………………… 3

3.       Jadwal Penelitian……………………………………………………………………………………….. 4

D.    PEMBAHASAN…………………………………………………………………………………………….. 4

1.      Karanganyar………………………………………………………………………………………………. 4

2.      Jaten………………………………………………………………………………………………………….. 5

3.      Jumapolo……………………………………………………………………………………………………. 6

E.    KESIMPULAN DAN SARAN………………………………………………………………………… 8

1.      Kesimpulan ……………………………………………………………………………………………….. 8

2.      Saran……………………………………………………………………………………………………….. 10

A.    PENDAHULUAN

1.           Dasar Pemikiran

Salah satu hal yang sangat menentukan kualitas Sumber Daya Manusia adalah kesehatan. Hidup sehat menjadi hak dasar setiap manusia, sehingga semua pihak memiliki kewajiban dan tanggung jawab yang sama untuk melindungi dan meningkatkan mutu dan kualitas kesehatan masyarakat beserta lingkungannya.

Untuk itu peningkatan derajat kesehatan masyarakat dan lingkungan  perlu perencanaan yang matang, integral, serta memiliki perkiraan-perkiraan dalam jangka panjang. Kemudian dalam implementasinya ditingkat lokal harus melibatkan masyarakat secara aktif dalam melakukan perencanaan, pemeliharaan, serta perlindungan kesehatan masyarakat beserta lingkungannya dalam rangka peningkatan derajat kesehatan masyarakat dan lingkungan. Karena air merupakan kebutuhan pokok manusia yang sifatnya tidak tergantikan oleh yang lain, sarana penyediaan air bersih yang dibangun oleh pemerintah harus dikelola dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya agar dapat diperoleh hasil guna dan daya guna yang optimal.

Salah satu konsekuensi PDAM adalah perlunya dilakukan sosialisasi kembali terhadap kebijakan yang ada serta dirumuskannya cara pandang baru yang berkenaan dengan manfaat air bersih dan layanan PDAM. Meskipun di Kabupaten Karanganyar sumber air bersih melimpah, akan tetapi perkembangan industri yang tidak terkendali, serta belum adanya perencanaan pembangunan tata ruang yang berbasis lingkungan, dan pencemaran air sehingga salah satu dampaknya adalah beban hidup masyarakat semakin berat dan rentan terhadap berbagai macam penyakit.

Kegiatan ini fokus pada masyarakat yang belum bisa menikmati air bersih terutama rakyat miskin. Setidaknya terdapat 3 alasan mengapa kegiatan ini kami lakukan, yaitu:

1.      Bahwa pengadaan air bersih dengan PDAM tidak mempunyai dampak negatif bagi lingkungan. bahkan kegiatan ini akan memberikan dampak yang positif terhadap keselamatan masyarakat, karena masyarakat didorong untuk bergaya hidup sehat dengan menggunakan kebutuhan air bersih setiap hari.

2.      PDAM merupakan sarana penyediaan air bersih yang dibangun oleh pemerintah harus dikelola dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya agar dapat diperoleh hasil guna dan daya guna yang optimal.

3.      Secara layak dengan mengenakan jasa tarif yang sesuai dengan kemampuan masyarakat dan PDAM dituntut untuk menghasilkan laba yang maksimal dalam upaya peningkatan kontribusi terhadap Pemerintah Daerah.

2.           Latar Belakang

Dewasa ini lembaga-lembaga pelayanan publik mendapatkan sorotan yang cukup serius dari masyarakat dalam hal kaitanya dengan bentuk pelayanan, khususnya lembaga-lembaga usaha negara atau daerah yang berbentuk badan hukum. Sebagai sebuah badan layanan publik milik negara atau daerah disatu sisi dituntut untuk selalu mendapatkan keuntungan (financial benefit) dan di satu sisi harus mengemban misi social (social mision), karena sebagai penyelenggara layanan kepada warga, dibawah kekuasaan negara atau daerah.

Kondisi ini juga menjadikan lembaga atau badan yang bersangkutan seperti memakan buah simalakama, apa yang harus didahulukan dan dilakukan, apakah harus fokus pada keuntungan yang besar atau tetap setia pada misinya sebagai lembaga pelayanan yang berorientasi sosial. Sehingga ketika terjadi defisit anggaran dan tidak terjadi keseimbangan antara pendapatan dan pengeluaran, karena tingginya biaya produksi ataupun operasional, siap-siap memperoleh justifikasi sebagai lembaga “payah” atau siap-siap untuk dilikuidasi.

PDAM Karanganyar (Perusahaan Daerah Air Minum) sebagai salah satu Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Pemerintah Kabupaten Karanganyar , yang bentuk usahanya bergerak dibidang komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak (air) juga dtuntut untuk seimbang antara profit oriented dan social mision . Untuk selalu menjaga kondisi yang seimbang diperlukan sebuah strategi yang selalu inovatif dan kreatif, dimana wilayah partsisipasi dalam kebijakanya selalu harus komunikatif dengan konsumen atau pelanggan, dimana pelanggan pada dasarnya adalah juga pemilik usaha yang direpresentasikan melalui DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) dalam fungsi pengawasanya terhadap kinerja PDAM.

 

B.     TUJUAN  PENELITIAN

1.      Umum

Penyelenggaraan program ini adalah untuk meningkatkan kesehatan terhadap masyarakat, dan mendorong masyarakat untuk berprilaku hidup sehat dengan memanfaatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari, menciptakan lingkungan yang sehat dan nyaman.

2.      Khusus

Terpenuhinya kebutuhan pokok masyarakat  miskin khususnya, yaitu penyediaan air bersih, meningkatnya kualitas kesehatan masyarakat beserta lingkungannya dan melakukan upaya perubahan bagi masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat.

 

C.    METODE PENELITIAN

1.                     Konsep Keluaran

Dibuatnya pemetaan penikmat air bersih di 3 kecamatan, Karanganyar, Jaten, dan Jumapolo ini terdapat keluaran, sebagai berikut :

1.               Adanya kesepahaman tentang pengelolaan terpadu, menyangkut penajaman issue, aksi ke depan, sinergi yang akan dibangun dan strategi menyeluruh.

2.               Teridentifikasi rencana tindak lanjut

3.               Tersedianya Rencana Aksi terpadu yang dapat berfungsi sebagai panduan bagi seluruh masyarakat dan Pemangku Kebijakan dalam pengelolaan Air bersih yaitu PDAM Kabupaten Karanganyar.

2.              Metode

Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah cluster sampling, yang mana pengambilan sampel berdasarkan gugus. Tahap-tahapan penelitiannya sebagai berikut :

1.   Menyusun sampling frame berdasarkan gugus, dalam kasus ini yaitu Kecamatan di Kabupaten Karanganyar.

2.   Menetukan beberapa gugus yang akan diambil sebagai sampel, dalam hal ini 3 gugus yang diambil.

3.   Pilih gugus sebagai sampel dengan cara acak, dan yang terpilih adalah Kecamatan Karanganyar, Jaten, Jumpolo.

4.   Meneliti setiap desa yang ada dalam gugus sample.

3.                     Jadwal Penelitian

No. Kegiatan Bulan
Oktober November Desember
1 Pengkajian penyusunan strategi dan pengembangan konsep penelitian    
2 Aplikasi strategi dan konsep penelitian    
3 Analisis Hasil dan Validasi    
4 Publikasi hasil Penelitian dan Laporan Hasil Penelitian    

 

D.    PEMBAHASAN

1.                     Karanganyar

Jumlah Lingkungan/dusun dimasing masing desa kecamatan karanganyar yang belum menikmati air bersih berdasarkan hasil kuisoner yang dilakukan oleh BIAR_foundation  bulan Oktober s/d Desember 2010.

    Jumlah Penduduk Kecamatan  Karanganyar 865.580 Jiwa    
No Desa Jumlah Dusun/Lingkungan Jumlah Dusun/Lingkungan yang belum dapat air bersih Keterangan
1. Lalung 5 Nihil
2. Bolong 4 2 Pingit, bolong
3. Jantiharjo 5 2 Banyak, Tunggulkalang
4. Tegalgede 5 4 Sopan, Manggeh, Tanjungsari, Titang
5. Jungke 4 Nihil
6. Cangakan 4 1 Manggung
7. Karanganyar 3 Nihil
8. Bejen 5 Nihil
9. Popongan 4 Nihil
10. Gayamdompo 5 1 Mojoroto
11. Delingan 4 Nihil
12. Gedong 5 Nihil

Data diambil dari buku BPS Karanganyar dalam angka tahun 2008

Dari data tersebut hampir 50% masyarakat Kecamatan karanganyar sudah bisa menikmati air bersih dan sehat, akan tetapi masih ada sebagian masyarakat yang belum menikmatinya dan ini menjadikan permasalahan yang sangat penting dikarenakan air adalah merupakan sumber utama kebutuhan sehari hari untuk menuju hidup sehat.

Catatan husus untuk Kelurahan Bolong pada dasarnya air sudah terpenuhi untuk kebutuhan sehari hari, akan tetapi sangat banyak kandungan zat besinya. Informasi ini langsung dari Kepala Kelurahan Bapak Drs. Suyoto.MS. Oleh karena itu Kelurahan Bolong sangat mengharapkan adanya jaringan PDAM masuk kewilayahnya mengingat jaringan PDAM sudah ada yang mendekati wilayah Bolong.

2.                     Jaten

Jumlah Lingkungan/dusun dimasing masing desa kecamatan Jaten yang belum menikmati air bersih berdasarkan hasil kuisoner yang dilakukan oleh BIAR_foundation  bulan Oktober s/d Desember 2010.

    Jumlah Penduduk Kecamatan  Jaten 70.770 Jiwa    
No Desa Jumlah Dusun/Lingkungan Jumlah Dusun/Lingkungan yang belum dapat air bersih Keterangan
1. Suruhkalang 6 Nihil
2. Jati 4 2 Jati, Jetis
3. Jaten 6 Nihil
4. Dagen 5 3 Songgorunggi, Dagen, jetak
5. Ngringo 8 Nihil
6. Jetis 5 5 Sambirejo, Jetis wetan, Jetis kulon, Gardu,Wates
7. Sroyo 6 3 Kasak, Sroyo, Kanten
8. Brujul 6 3 Brujul, Duwet, Purworejan

Data diambil dari buku BPS Karanganyar dalam angka tahun 2008

 

Melihat kondisi Kecamatan jaten yang sangat pesat pertumbuhan pabrik produksinya, menyebabkan limbah pabrikpun tidak terbendung lagi, sehingga dari data hampir 75% masyarakat Kecamatan Jaten membutuhkan air PDAM yang bersih dan sehat, sehingga kebutuhan air bersih tercukupi.

Ada 2 (dua) catatan husus di wilayah Kecamatan Jaten yang sangat mendesak untuk kebutuhan air bersih yaitu :

1.         Pada Desa Sroyo, karena peningkatan kepadatan penduduk yang sangat pesat menyebabkan jarak antar rumah ke rumah berdekatan sehingga sumur duduk warga sangat berdekatan dengan spiteng yang dikhwatirkan resapan spiteng tersebut merembas kesumur duduk warga yang berdampingan. Pernyataan ini diungkapkan oleh Babak BUDI SANTOSO, Spd.i. selaku KAUR KEUANGAN.

2.         Adapun Desa Jetis permasalahannya adalah hampir di seluruh wilayah airnya mengandung zat kapur, ini terbukti pada saat air direbus kemudian didinginkan maka terlihatlah endapan dibejana tersebut. Bapak SUWARNO selaku kepala desa Jetis sangat mengharapkan jaringan PDAM masuk kewilayahnya.

3.                     Jumapolo

Jumlah Lingkungan/dusun dimasing masing desa kecamatan Jumapolo yang belum menikmati air bersih berdasarkan hasil kuisoner yang dilakukan oleh BIAR_foundation  bulan Oktober s/d Desember 2010.

Jumlah Penduduk Kecamatan  Jumapolo 47.441 Jiwa

No

Desa

Jumlah Dusun/Lingkungan

Jumlah Dusun/Lingkungan yang belum dapat air bersih

Keterangan

1. Paseban

7

4

Gudang, Tegalrejo, Bang lor, Bang kidul
2. Lemahbang

8

6

Bugongin, Nglaban, Patih, Dlangin lor, Dlanginkidul, Lemahbang
3. Karangbangun

7

Nihil
4. Ploso

8

3

Ploso kulon, Daleman, Ploso etan
5. Giriwondo

7

Nihil
6. Kadipiro

9

Nihil
7. Jumantoro

9

Nihil
8. Kedawung

9

3

Babatan, Tengklik, Wates
9. Bakalan

12

2

Kedokan, Wates
10. Jumapolo

10

3

Pencil, Ketigo, Tempurejo
11. Kwangsan

10

2

Brangkal, Jumapuro
12. Jatirejo

 8

5

Ketro, Tulakan, Tegalmojo, Ngasem,

Moojodipo

Data diambil dari buku BPS Karanganyar dalam angka tahun 2008

 

 

Dari data ini menunjukan bahwa tingkat realisasinya tidak sebanding dari target, hal ini disebabkan didaerah tersebut masih minim sekali akan air bersih, ini terbukti dari hasil kuisoner yang diajukan kepada perangkat Desa yang mewakili. Kemudian ada beberapa desa yang apabila musim kemarau tiba maka penduduknya kekurangan air yaitu Desa Ploso, Paseban, Lemahbang.

Adapun tantangan yang dihadapi dengan permasalahan tersebut diatas antara lain :

1.         PDAM seyogyanya menyediakan jaringan air bersih dengan meningkatnya masyarakat yang membutuhkan untuk mewujudkan gaya hidup sehat.

2.         Meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya air bersih untuk kelangsungan hidup

Kebijakan PDAM Kabupaten Karanganyar dalam rangka pengentasan kesehatan diantaranya memperluas jaringan PDAM demi terwujudnya keadilan sosial bagi masyarakat Karanganyar umumnya dan bagi daerah yang sangat membutuhkan khususnya.

Tiga pilar utama kebijakan strategis dalam pengembangan jaringan PDAM yang tertuang dalam Visi dan Misi PDAM kabupaten Karanganyar sebagai upaya peningkatan kualitas pelayanan PDAM yaitu :

1.     Terwujudnya kemampuan untuk memberikan layanan air bersih secara tepat kualitas.

2.     Mutu relevansi secara tepat kuantitas.

3.     Pelayanan yang maksimal dengan memperhatikan kelancaran air secara kontinuitas sehingga terwujudlah Good governance , akuntabilitas dan pencitraan public. Secara Ideal, dalam siklus perencanaan PDAM, sebagai ranah kebijakan strategis, akan teapi kami team analisis belum menemukan data yang menjelaskan secara spesifik masalah kebijakan secara husua yang diperuntukan bagi keluarga miskin.

 

TINGKAT RESPONSIF MASYARAKAT DALAM KEBIJAKAN DAN PROGRAM PDAM

Dalam studi serial masing-masing Dokumen Kebijakan Strategis, terdapat penilaian sebagai berikut:

PDAM menegaskan tujuan pengembangan jangka menengah daerah “perlunya prioritas peningkatan kesehatan dan pemerataan bagi seluruh masyarakat daerah untuk bisa menikmati air bersih dan sehat”, namun dalam jabaran selanjutnya ternyata tidak terdapat konsistensi pada penegasan tujuan ini. Studi juga tidak melihat Pentingnya  partisipasi kelompok orang miskin dalam perumusan isu-isu strategis pengembangan jaringan tersebut. Pokok -pokok  rencana strategis pengembangan jaringan PDAM belum maksimal dan merata kepelosok wilayah-wilayah yang sangat membutuhkan air bersih tersebut.

 

E.     KESIMPULAN DAN SARAN

1.                  Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis ini kebijakan PDAM di Kabupaten Karanganyar ,  maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

Persoalan pemerartaan jaringan air minum sebagai bagian dari pelayanan publik senantiasa menjadi isu penting dimasyarakat. Karena air merupakan kebutuhan pokok manusia yang sifatnya tidak tergantikan oleh yang lain.

Oleh sebab itu, sarana penyediaan air bersih yang dibangun oleh pemerintah harus dikelola dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya agar dapat diperoleh hasil guna dan daya guna yang optimal. PDAM sebagai BUMD dituntut untuk memberikan pelayanan air bersih secara layak dengan mengenakan jasa tarif yang sesuai dengan kemampuan masyarakat dan PDAM dituntut untuk menghasilkan laba yang maksimal untuk meningkatkan kontribusi terhadap Pemerintah Daerah.

Kedua kepentingan ini membawa konsekuensi terhadap eksistensi PDAM, terutama dalam melakukan kewajiban membayar hutang jangka panjang. Dalam penelitian ini penulis bertujuan untuk mengetahui perkembangan  yang dikelola PDAM Karanganyar dan untuk mengetahui apakah programnya sudah sesuai dengan PERDA Nomor 13 Tahun 2007, bahwa tujuan pendirian PDAM adalah :

1.                  Untuk pemeuhan kebuutuhan air bersih dan air minum dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan sebagai salah satu sumber  pendapatan asli daerah.

2.                  Menyelenggarakan, mengelola dan mengawasi pemakaian air bersih secara merata dan efisien dalam rangka memenuhi kebutuhan air bersih dan air minum.

 

Pengumpulan data dalam penelitian ini dengan wawancara secara langsung dengan pihak aparat Desa, dan juga studi pustaka dengan kantor Badan Pengawas Statistik Kabupaten Karanganyar dalam menentukan jumlah penduduk ditahun 2008. Dari analisis ini ditemukan adanya program pemerintah yang belum berjalan, seperti PAMSIMAS, kemudian belum ditemukan adanya double program antara PAMSIMAS dan PDAM sehingga masih kelihatan konsisten dalam programnya dari maasing masing instansi terkait.

Berikutnya dari tinjauan benefeciaries pembangunannya, alokasi anggaran yang diperuntukkan pada masyarakat miskin belum cukup signifikan. Hal ini dikarenakan selain tidak terdapat konsistensi antara prinsip yang disusun dan perencanaan. Meskipun sebenarnya kekuatan untuk mendorong keberpihakan pada masyarakat miskin bisa secara paralel terakomodasi, namun pada kenyataanya adalah tidak adanya signifikansi yang cukup dalam kebijakan yang diambil, sehingga bisa dikatakan pula bahwa prioritas yang diambil bukan berpihak pada masyarakat miskin.

Secara umum dalam program dan kegiatan PDAM Kabupaten Karanganyar telah terdapat kecenderungan mengintegrasikan peningkatan pelayanan dan cangkupan, akan tetapi perbandingan/komposisi antara kebutuhan masyarakat dan kemampuan PDAM belum seimbang sehigga masih ada beberapa daerah yang membutuhkan jaringan PDAM tetapi belum terpenuhi. Berdasarkan kondisi tersebut, upaya peningkatan dan perluasan serta pemerataan dalam rangka mengintegrasikan peningkatan pelayanan dan cakupan harus memperhatikan keragaman yang ada, sehingga intervensi yang dilakukan benar-benar dapat meningkatkan partisipasi secara adil  dan merata terutama bagi kelompok penduduk yang saat ini sangat membutuhkan.

Penyusunan rencana program PDAM serta kegiatan dan anggaran yang tercermin dalam lembaran STRATEGI DAN PROGRAM PERUSAHAAN PDAM Kabupaten Karanganyar menunjukan akan adanya niatan utuk menuju kepada pencapaian antara visi dan misi PDAM Kabupaten Karanganyar.

2.                     Saran

Berdasarkan kesimpulan hasil analisa tersebut di atas, Tim Analisis BIAR_foundatian perlu menyampaikan saran-saran sebagai berikut :

1.      Perlu melakukan analisis dan advokasi anggaran yang berpihak orang miskin dengan memanfaatkan tools yang tersedia, mengembangkan tools khusus guna pemantauan dan penilaian atau Monitoring dan Evaluasi (Monev) progam dan anggaran yang menuju kesetaraan ekonomi dan keberpihakan kepada orang miskin di PDAM Kabupaten Karanganyar.

2.      Perlu melakukan pertemuan dengan PDAM dan DPRD yang membidangi pembangunan dan ekonomi untuk bersama-sama menghimpun potensi dan menyamakan persepsi akan pentingnya pemerataan program bagi masyarakat keluarga miskin untuk diterapkan dalam penyusunan kebijakan, program, kegiatan, dan anggaran dengan mengacu pendekatan anggaran berbasis kinerja.

3.      Perlu melakukan penguatan kapasitas di internal dan External lembaga-lembaga CSO maupun Ormas untuk mengawal kebijakan kebijakan dalam penyusunan program PDAM Kabupaten Karanganyar. Perlu memperkuat kapasitas CSO dalam melakukan penelusuran anggaran (Budget tracking) untuk mengetahui secara rinci orientasi alokasi anggaran masing-masing Kegiatan dalam rangka memastikan anggaran yang transparan.

4.                    CSO beserta pihak-pihak berkompeten perlu mendesakan untuk menerapkan Kepmendagri nomor 13 Tahun 2006 dan nomor 59 Tahun 2007 terkait penetapan indikator kegiatan untuk menerapkan Indikator yang terukur, mudah difahami dan sederhana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s