Kimia Lingkungan

LANGIT BIRU

 

  1. LATAR BELAKANG

Pencemaran udara menjadi masalah yang serius terlebih tahun-tahun terakhir ini terutama di kota-kota besar. Upaya pengendalian pencemaran termasuk pencemaran udara pada dasarnya adalah menjadi kewajiban bagi setiap orang. UU No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup mengamanatkan bahwa setiap orang berkewajiban memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta mencegah dan menanggulangi pencemaran dan perusakan lingkungan hidup.

Pemerintah dalam upaya meningkatkan kualitas udara sejak tahun 1992 telah melaksanakan Program Langit Biru sebagai upaya untuk mengendalikan pencemaran udara baik yang berasal dari sumber bergerak maupun tidak bergerak, yang selanjutnya dikukuhkan dengan Kepmen LH No. 15/1996 tentang Langit Biru. Berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 2/2002 maka Program Langit Biru menjadi bagian kegiatan dari program Kementerian Lingkungan Hidup dalam mengembangkan sistem penaatan terhadap sumber pencemaran emisi sumber bergerak. Namun demikian Kementerian Lingkungan Hidup menganggap perlu melakukan upaya peningkatan partisipasi masyarakat terhadap pencemaran udara yang semakin buruk kondisinya. Selama ini Program Langit Biru belum memiliki logo yang memudahkan masyarakat untuk mengenal dan memahami Program Langit Biru.

Program Langit Biru adalah nama lain untuk pengendalian pencemaran udara. Pencemaran udara dapat menyebabkan dampak buruk terhadap kesehatan terutama penyakityang berkaitan dengan saluran pemapasan. Pencemar debu yang berasal dari gas buang kendaraan bermotor dan industri dapat mengandung logam-logam berbahaya seperti timah hitam (timbal). Program ini juga bertujuan mewujudkan perilaku sadar lingkungan, baik dari sumber tidak bergerak (industri) maupun sumber bergerak yaitu kendaraan bermotor. Lebih lanjut lagi program ini adalah usaha menekan angka polusi udara.

 

  1. GAMBARAN UMUM

Pada tahun 1992 Indonesia memecahkan rekor sebagai negara yang udaranya paling kotor di dunia. Bahkan badan lingkungan hidup dunia (UNEP) tanpa ragu menobatkan Jakarta sebagai kota terpolusi nomor tiga setelah MEXICO dan BANGKOK. Sumber pencemaran udara berasal dari kendaraan bermotor (75%) dan industri (25%). Sekitar 3 juta kendaraan bermotor dari 75% pencemaran itu 90% berasal dari kendaraan pribadi dan 10%-nya dari angkutan umum. Emisi yang keluar dari knalpot kendaraan bermotor adalah CO, SO, CO2, SOX, NOX, debu dan timbal ( timah hitam ).

Dampak pencemaran udara secara mikro mempengaruhi kualitas udara setempat sedangkan pada skala makro mempengaruhi seluruh mahluk hidup di bumi. Sektor pemukiman yang menggambarkan emisi dari rumah tangga juga berperan penting dalam emisi pencemar udara, misalnya pembakaran bahan bakarminyak tanah berupa partikulat dan sulfurdioksida. Polutan ini masuk ketubuh manusia melalui sistem penafasan, pencernaan dan kulit. Dampaknya pada anak-anak yaitu sindroma saluran pencernaan, kesadaran, anemia, kerusakan ginjal, terganggunya syaraf pusat. Penurunan IQ dan berubahnya perilaku pada orang dewasa akan menyebabkan gangguan kesuburan (fertilisasi), kanker, pusing, saluran pernafasan, hipertensi, jantung, dan keguguran.

Pembakaran bensin berdampak amat buruk bagi lingkungan. Selain menguras sumber daya alam. Pembakaran bensin menghasilkan gas-gas yang termasuk dalam gas rumah kaca (GRK). GRK ini naik dan berkumpul diatmosfer bumi. Menyebabkan efek rumah kaca yang berlebih. Efek rumah kaca yang tidak terkendali menyebabkan perubahan ekologi antara lain naiknya suhu bumi, perubahan iklim, naiknya permukaan laut, krisis air bersih dikota besar, meningkatnya frekuensi penyakit yang ditularkan oleh nyamuk dan menurunnya produktivitas pertanian.

Tindakan yang dapat dilakukan untuk mendukung Program Langit Biru adalah :

1.     Belilah kendaraan yang hemat bahan bakar. Pergunakan aki mobil yang dapat diisi ulang. Untuk kendaraan bermotor roda dua, pilih yang bermesin empat tak ketimbang dua tak. Selain menghemat bahan bakar, emisi udaranya juga jauh lebih kecil.

2.     Rawat kendaraan secara teratur, seperti mesin, penyaring bahan bakar, tekanan ban, dll. Kendaraan dalam kondisi baik dapat mengkonsumsi 9% lebih sedikit bahan bakar.

3.     Jangan membiasakan ngebut bila tidak diperlukan, jika mengurangi kecepatan berarti mengurangi penggunaan bhan bakar dan polusi.

4.     Kurangi pemakaian kendaraan pribadi bila jarak tempuh dekat dan bila benar-benar diperlukan saja.

5.     Gunakan kendaraan umum bila pengguna kendaraan hanya sedikit, selain menghemat bahan bakar juga mengurangi emisi yang terbuang.

6.     Menggunakan bensin tanpa timbal bila mampu.

7.     Matikan mesin kendaraan bila mengalami kemacetan lalulintas.

 

  1. CARA PENANGGULANGAN

Dengan kondisi pencemaran udara seperti yang terjadi sekarang ini, ruang terbuka hijau (RTH) yang didominasi tanaman menjadi penting. RTH dapat berfungsimenyegarkan udara dengan mengambil karbon dioksidadalam proses fotosintesis dan menghasilkan oksigen yang sangat diperlukan makhluk hidup untuk bernapas. Khusus pada siang hari, tanaman merupakan pembersih udara yang sangat efektif melalui mekanisme penyerapan (absorbsi) dan penjerapan (adsorbsi) dalam proses fisiologis,yang terjadi terutama pada daun dan permukaan

tumbuhan (batang, bunga, danbuah).

 

 

Gambar : Langit Biru

 

  1. HAMBATAN DALAM MEWUJUDKAN PROGRAM LANGIT BIRU

Program Langit Biru tidak akan efektifjika tidak didukung oleh program lembaga lainnya. Dengan kata lain harus berkesinambungan antara program lingkungan hidup dan program lainnya. Salah satu ironi dalam kampanye program Langit Biru adalah terjadinya benturan kepentingan antara lembaga lingkungan hidup dan lembaga yang bergerak dalam bidang ekonomi. Perdagangan, misalnya, di satu sisi menggenjot angka penjualan kendaraan bermotor. Di sisi lain program lingkungan hidup mengharapkan udara bersib dari polusi kendaraan bermotor.

Program lain yang menjadi hambatan bagiprogram Langit Biru adalah rencana pembangunan tol dalam kota di Bandung tahun 2012 yang meliputi ruas Pasteur-Cileunyi sepanjang 20,6 kilometer dan Cibiru-Gedebage sepanjang 6,7 kilometer dengan lebar jalan 2 meter x 36meter. Proyek ini rencananya didukung Badan Kerja Sarna Internasional Jepang (JICA) dengan dana pinjaman dari Bank Jepanguntuk Kerja Sama Internasional (JBIC). Jepang mendukung setiap pembangunan jalan raya di Negara berkembang. Logikanya, dengan banyak jalan, penjualan kendaraan bermotor khususnya dari produsen mobil Jepang akan meningkat. Masalahnya kemudian, semakin banyak kendaraan bermotor yang berlalu lalang, semakin meningkat pula polusi karena gas buang kendaraan bermotor ini.

 

PROKASIH

(Program Kali Bersih)

 

A.   PENGERTIAN

PROKASIH merupakan singkatan dari Program Kali Bersih, adalah nama program tindak kerja (action plan) dalam rangka pengendalian pencemaran air sungai yang dicanangkan dan mulai dilaksanakan pada tahun 1989, sehingga Tahun Anggaran 1989/1990 menjadi Tahun Pertama PROKASIH.

PROKASIH merupakan program kerja nasional yang pelaksanaan kegiatan operasionalnya di daerah dilakukan oleh masing-masing Pemerintah Daerah yang bersangkutan, dan pembinaannya dilakukan oleh masing-masing instansi sesuai dengan tugas dan fungsinya.

PROKASIH dicanangkan dalam Rapat Kerja Pengendalian Pencemaran Air Sungai yang diselenggarakan oleh Kantor Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup bekerja sama dengan Departemen Dalam Negeri dan Pemerintah Daerah Tingkat I Propinsi Jawa Timur pada tanggal 14 – 15 Juni 1989 di Surabaya. Rapat Kerja ini diikuti oleh para Wakil Gubernur dari delapan Propinsi Daerah Tingkat I, yaitu : DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Lampung dan Kalimantan Timur.

Pada awal pelaksanaannya, PROKASIH dilaksanakan di delapan propinsi yang turut dalam rapat kerja pencanangan PROKASIH di Surabaya, dengan lingkup lokasi kerja meliputi 15 DPS dan 35 sungai/ruas sungai. Jumlah propinsi pelaksana PROKASIH dan lingkup kerjanya terus meningkat. Hingga tahun 1999/2000, PROKASIH dilaksanakan di 17 propinsi, 34 DPS dan 75 sungai/ruas sungai. Daftar propinsi, DPS dan sungai/ruas sungai yang telah masuk lingkup kerja PROKASIH disajikan pada Lampiran 1 dan 2.

Hasil pelaksanaan PROKASIH dari tahun 1989/1990 sampai dengan tahun 1999/2000 dapat dilihat berdasarkan sasaran dan tolok ukur keberhasilannya, yaitu :

1.     Peningkatan Sumber Daya Kelembagaan

2.     Tata Laksana

Pada aspek ini yang paling terlihat hasilnya adalah kerjasama, keserasian, dan keselarasan antar instansi dalam pelaksanaan pengendalian pencemaran air. Kerjasama tersebut memberikan hasil yang sinergis dan mutualistis bagi setiap instansi yang terkait;

3.     Peraturan

Telah banyak peraturan pelaksanaan mengenai pengendalian pencemaran air di tingkat daerah yang telah ditetapkan dan diterapkan, seperti mengenai peruntukan air, baku mutu air, baku mutu limbah cair, dan laboratorium yang ditunjuk sebagai pelaksana pengawasan pengendalian pencemaran air. Beberapa propinsi telah berhasil merumuskan rancangan Peraturan Daerah mengenai ketentuan perizinan pembuangan limbah cair ke dalam sungai dan ketentuan retribusi pembuangan limbah cair ke dalam sungai;

4.     Sumber Daya Manusia

Jumlah aparat pelaksana PROKASIH yang telah mengikuti pelatihan di bidang pengendalian pencemaran air jauh meningkat dibandingkan sebelum pelaksanaan

PROKASIH. Selain itu tingkat pengetahuan, pemahaman dan keterampilannya telah jauh meningkat yang tercermin dari kegiatan dan hasilnya. Kapasitas pelaksanaan juga meningkat, baik kuantitas maupun kualitas kegiatannya seperti peningkatan lingkup kerja dan kualitas hasil pemantauan, pengelolaan data hasil pemantauan serta pelaporan;

5.     Dana Anggaran Pelaksanaan PROKASIH

Anggaran yang dialokasikan bagi kegiatan PROKASIH, baik di tingkat pusat (APBN) maupun di tingkat daerah (APBD) menunjukkan peningkatan. Selain itu alokasi penggunaannya lebih terarah pada upaya yang dapat efektif menurunkan beban pencemaran yang masuk ke sungai.

6.     Penurunan Beban Pencemaran Limbah Cair

Beban pencemaran limbah cair dari perusahaan-perusahaan yang termasuk dalam lingkup kerja PROKASIH menunjukkan penurunan. Keberhasilan ini didukung oleh indikasi peningkatan perhatian dan komitmen pimpinan dari perusahaan yang membuang limbah cairnya ke dalam sungai, seperti :

a.     Upaya untuk memahami ketentuan-ketentuan pengendalian pencemaran air dan upaya untuk mentaatinya;

b.     Upaya untuk mengelola data mengenai produksi dan limbahnya;

c.      Keterbukaan menerima aparat yang ditugasi memantau dan memeriksa limbahnya;

d.     Upaya mengelola limbah cairnya, baik yang baru membangun Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) maupun yang meningkatkan efektifitas IPAL yang telah ada.

7.     Peningkatan Kualitas Air Sungai

Kualitas air sungai pada ruas-ruas sungai yang masuk lingkup kerja PROKASIH secara umum menunjukkan tiga kecenderungan perubahan kualitas air dari tahun ke tahun, yaitu penurunan kualitas air, peningkatan kualitas air atau tidak mengalami perubahan secara berarti. Hasil pemantauan kualitas air sungai pada ruas-ruas sungai PROKASIH menunjukkan kenaikan yang kurang berarti walaupun beban pencemaran dari buangan limbah cair industri PROKASIH telah berhasil diturunkan cukup banyak.

B.   KEBIJAKSANAAN, VISI DAN MISI

1.     Landasan Kebijaksanaan

Kebijaksanaan yang diketengahkan dalam bab ini bersumber kepada Undang-undang Dasar 1945 (UUD 45), Ketetapan MPR tentang Garis-garis Besar Haluan Negara dan Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, serta kebijaksanaan nasional lainnya yang berkenaan dengan lingkungan hidup yang tidak mungkin diketengahkan seluruhnya dalam buku ini. Undang-undang Dasar 1945 (UUD 45) telah menetapkan kebijaksanaan berkenaan dengan lingkungan hidup yaitu sebagaimana dimaksud dalam Alinea Keempat Pembukaan, dan Pasal 33 ayat (3) serta Penjelasannya. Selain itu kebijaksanaan tentang lingkungan hidup telah digariskan secara konsisten dalam setiap Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) sampai dengan GBHN 1998. Kebijaksanaan tentang lingkungan hidup juga telah ditetapkan dalam Undang-undang tersendiri, yaitu : Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (UU No. 23/97) sebagai pengganti Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 Tentang Ketentuanketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup, serta dalam Undang-undang lainnya seperti Undang-undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian. Amanat Kebijaksanaan Nasional yang berkenaan dengan pengelolaan lingkungan hidup sebagaimana ditetapkan dalam UUD 1945, GBHN 1998 dan UU No. 23/97, secara ringkas dapat diintisarikan menjadi butir-butir amanat sebagai berikut :

a.     Sumber daya alam dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat;

b.     Lingkungan hidup merupakan faktor dan modal pokok bagi pembangunan Nasional;

c.      Lingkungan hidup harus dikelola karena sangat penting bagi kehidupan dan perikehidupan manusia, serta keseimbangan ekologi;

d.     Kelestarian fungsi lingkungan hidup harus dikelola dalam setiap kegiatan pembangunan, sehingga lingkungan hidup tetap mampu mendukung pembangunan secara berkelanjutan bagi kesejahteraan, baik untuk generasi sekarang maupun generasi mendatang;

e.      Peningkatan kualitas sumber daya manusia agar mampu menghadapi tantangan di masa mendatang yang semakin berat.

Dalam rangka mengemban amanat tersebut, telah ditetapkan Peraturan Perundang-undangan yang berkenaan dengan pengendalian pencemaran lingkungan hidup, termasuk pengendalian pencemaran air. Pada pokoknya, ketentuan hukum tersebut menetapkan bahwa kualitas lingkungan yang baik dan sehat merupakan hak setiap orang, dan pencemaran lingkungan wajib dikendalikan oleh yang menyebabkannya. Ditetapkan pula kewajiban Pemerintah berkenaan dengan upaya pengendalian pencemaran lingkungan hidup.

2.     Visi

PROKASIH selain merupakan program kerja juga merupakan suatu sistem institusi, mengingat PROKASIH tidak dapat dilakukan oleh hanya satu lembaga melainkan oleh beberapa lembaga, yang terdiri dari instansi-instansi terkait dan pemerintah daerah-pemerintah daerah serta kelompok-kelompok masyarakat, termasuk sektor swasta.

Visi PROKASIH adalah :

Menjadikan PROKASIH sebagai sistem institusi yang diakui dan dirujuk oleh pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholder) dalam upaya pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air sungai yang efektif dan efisien.

3.     Misi

Berdasarkan Kebijaksanaan Nasional yang berkenaan dengan pengendalian pencemaran lingkungan, maka Misi PROKASIH dirumuskan secara ringkas menjadi tiga butir misi sebagai berikut:

a.     Mewujudkan keselarasan hubungan antara manusia dan lingkungannya;

b.     Melestarikan fungsi lingkungan hidup, khususnya lingkungan perairan sungai;

c.      Meningkatkan sumber daya kelembagaan dibidang pengendalian pencemaran lingkungan.

C.   TUJUAN

Pada dasarnya PROKASIH merupakan bagian dari pelaksanaan Pembangunan Nasional, sehingga harus dilaksanakan dalam rangka mensukseskan pembangunan. PROKASIH harus diarahkan untuk mewujudkan Tujuan Pembangunan Nasional.

D.   STRATEGI PELAKSANAAN

Menghadapi tantangan di masa depan dan adanya kendala dalam pelaksanaan pengendalian pencemaran air, diperlukan strategi yang tepat dengan memanfaatkan peluang yang ada. Berdasarkan hal-hal tersebut pelaksanaan PROKASIH dilakukan dengan menerapkan 4 (empat) prinsip kerja sebagai berikut :

1. Fokus

Mengingat keterbatasan-keterbatasan yang ada, PROKASIH pada tahap pelaksanaannya harus dilakukan dengan pembatasan lingkup kerja yang disesuaikan dengan kapasitaskelembagaannya. Jumlah propinsi, jumlah sungai (ruas sungai), kegiatan sumber pencemar yang masuk dalam lingkup kerja PROKASIH perlu dibatasi dengan penajaman prioritas agar intensitas kegiatannya tinggi. Bersamaan dengan itu dilakukan pula upaya peningkatan kapasitas sumber daya kelembagaan pengelolaannya, dengan prioritas pada faktor yang paling menentukan keberhasilan. Dengan demikian maka ruang lingkup secara bertahap dapat diperluas dengan tetap menjaga intensitasnya;

2. Tanggung Jawab (Accountability)

Semua pihak yang terkait dalam PROKASIH perlu mempunyai tanggung jawab yang jelas. Oleh karena itu diperlukan ukuran-ukuran keberhasilan yang dapat dihitung dan dibandingkan satu dengan lainnya. Dalam rangka ini, maka diperlukan baku mutu air sungai, baku mutu limbah, persyaratan pembuangan limbah (dalam izin) yang wajib ditaati, dan kriteria keberhasilan. Untuk ini diperlukan dorongan dan insentif bagi para pelakunya terutama aparatur, pengusaha, dan masyarakat pada umumnya;

3. Simplifikasi

PROKASIH perlu dirancang tata kerjanya semudah mungkin agar dapat dilaksanakan dan mencapai sasarannya, serta disampaikan hasilnya kepada masyarakat dalam jangka waktu pendek. Hal ini perlu agar PROKASIH dapat dipahami secara mudah oleh para pengambil keputusan, para pelaksana di pemerintahan, bisnis, dan masyarakat luas. Oleh karena itu, PROKASIH perlu direkayasa dengan tata kerja kegiatan dan kriterianya dalam paket yang jelas, dengan nama yang jelas (brand name) dan yang mudah diingat (karena itu, program kerja ini diberi label PROKASIH), dan dilengkapi dengan rencana pengkomunikasiannya (marketing plan).

4. Penegakan (Enforcement)

Untuk meningkatkan pentaatan terhadap pembatasan masuknya limbah ke sungai-sungai, maka diperlukan berbagai instrumen pentaatan yang diterapkan. Instrumen ini antara lain adalah konsultasi, insentif, peran serta masyarakat, sanksi hukum dan sanksi administrasi. Dalam mengatur perimbangan antara instrumen-instrumen yang diterapkan, penegakan hukum tetap merupakan tulang punggung pentaatan, karena tanpanya menjadi tidak ada resiko untuk ketidaktaatan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TUGAS KIMIA LINGKUNGAN

LANGIT BIRU DAN PROKASIH (PROGRAM KALI BERSIH)

 

OLEH :

1. Dhesy Vindhasah                    K 3306003

2. Susi Aristia                    X 3306013

3. Sylvia Octavianti                     K 3306011

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

2010

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s