Solo Di Piringan Rasa

Solo adalah kota yang bergerak lambat. Solo, so slow. Dibanding Jakarta yang gemuruh, Bandung yang terhempas-hempas gelora, maka Solo adalah denting yang sayup-sayup sampai. Dalam kesayupan itu, tersimpan ribuan kisah yang justru tak pernah terucap. Diantaranya kisah tentang kekayaan kuliner yang tak tepermanai yang selain enak tapi juga murah dan kisah tentang masjid-masjid tua yang berdiri gagah dan elok hingga sekarang.

Kekayaan kuliner solo memanjakan kita dengan keanekaragaman makanan tradisional yang menyajikan cita rasa khas yang langka dijumpai di tempat lain dan harga yang tidak membuat kantong bisa bolong. Berikut beberapa tempat makan yang sayang untuk dilewatkan bila berkunjung ke Solo.

Bestik Harjo 

”Bestik Harjo” di daerah Pasar Kembang. Mbah Harjo membuka warungnya di malam hari. Bestik, pada dasarnya adalah beef steak yang dilafalkan dengan lidah Jawa. Namun berbeda dengan beef steak, bestiknya orang jawa adalah daging yang disajikan dalam kuah semur, selada, tomat, kentang goreng, dan saus mayoinese. Bestik ini nampaknya merupakan akulturasi makanan dari berbagai sejarah bangsa. Steak dari Barat, Semoor dari Portugis, Rasa Manis dari Jawa, Sayur dari Jawa. Rasanya sungguh ”reformatif” untuk sebuah perpaduan kultur. Kuah semur kecoklatan mampu meredam lidah kita dengan berbagai sensasi. Kalau direnungkan dalam-dalam sambil mengunyah, kuah ini diolah dari tumisan mentega, bawang merah, bawang bombai, ditambah kaldu ayam, kecap manis dan asin, garam, serta merica. Lidah kita banjir dengan kuah yang banyak. Sungguh ”nyemek” dalam istilah orang Jawa. Harganyapun hanya berkisar antara 10.000-20.000 tergantung apa yang dipesan, dan klo katanya sich ini tempat adalah tempat yang sering dikunjungi dan disukai oleh pak Harto mantan presiden kita.

Sate Kambing Bu Hj. Bejo

Sate Kambing juga merupakan jenis makanan yang harus dicoba di Solo. Tidak seperti di kota lain, sate kambing di Solo disajikan dengan keadaan sudah dilepasi dari tusuknya, dengan disiram bumbu kecap kental dan merica yang terasa. Dilengkapi pula dengan irisan kol, tomat, dan bawang merah. Empuknya? tidak perlu diragukan lagi. Salah satu sate kambing yang perlu dicoba adalah Sate Kambing Bu Hj. Bejo. Warung sate yang terletak di kawasan Lojiwetan ini menyajikan menu sate kambing, tongseng kambing, dan sate buntel. Yang istimewa dari sate kambing ini, kalau daging kambing biasanya beraroma prengus, Bu Bejo bisa memasaknya sedemikian rupa sehingga bau prengusnya tidak sampai mengganggu kenikmatan makan sate. Bagi Anda yang tidak suka daging kambing karena baunya, Anda perlu mencoba sate kambing ini Sate kambing lain yang patut dikunjungi adalah Sate Kambing Tambaksegaran di Jl. Sutan Syahrir, Widuran. Di warung ini, tersedia pula Sop Sumsum dan Kikil Goreng yang boleh dicoba. Ada pula Sate Kambing mBok Galak di Jl. Ki Mangunsarkoro Sumber, Banyuanyar, Solo. Kalau yang ini, tongsengnya mak nyuss banget. Dan warung sate inipun termasuk lumayan murah buat harga, sekitar 20.000 – 40.000 untuk sekali makan, dan bukan hanya itu, disini banyak para Arabian makan, jadi bagi yang ingin sekedar cuci mata ataupun mencari jodoh, ini merupakan salah satu tempat yang bagus, hahaha.

Bebek Goreng Pak Hj. Slamet

Bebek Goreng Pak H. Slamet ini merupakan salah satu tempat makan yang patut dicoba bila berkunjung ke Solo. Di warung Pak Slamet ini, bebek disajikan dengan digoreng kering. Namun, teksturnya teteap empuk, tidak seperti bebek goreng kering lainnya. Selain itu, bebek disajikan dengan sambal korek yang dibuat dengan campuran minyak jelantah bekas menggoreng bebek, dijamin mak nyuss deh. Lalapan? jangan khawatir, disediakan pula timun dan daun pepaya sebagai pelengkap. Kelezatan bebek goreng ini sudah terbukti dengan banyaknya cabang baik di kota-kota besar. Apabila Anda bertandang ke Solo melalui Yogyakarta, di jalan raya masuk kearah kota Solo, Anda akan menemui bebek goreng ini di sebelah kiri jalan. Cabang bebek goreng ini juga bisa Anda temui di Jl. Bhayangkara, Solo. Untuk kisaran harga, cuma  15.000 – 20.000 untuk 1 porsi nya aja plus-plus yang laennya.

Cukup untuk wisata kulinernya, sekarang mari kita wisata budaya masjid-masjid tua yang ada di solo yang memiliki sejarah-sejarah yang cukup memukau.

Masjid Al-Wustho

Masjid ini adalah salah satu masjid bersejarah  di kota Solo. Lokasi masjid berada di sebelah barat  kompleks istana / Pura Mangkunegaran Surakarta. Kompleks masjid Al Wustho Mangkunegaran terdiri dari bangunan utama berupa masjid beserta fasilitas tempat wudlu dan menaranya. Di sebelah selatan terdapat bangunan sekolah Taman Kanak-Kanak Aisyiah Bustanul Athfal yang berhubungan langsung dengan bangunan rumah tinggal keluarga ta’mir atau pengurus masjid. Di sebelah utara terdapat fasilitas Unit Kesehatan Masjid dan tempat tinggal Ta’mir masjid. Terdapat sebuah bangunan berbentuk lingkaran yang berukuran kecil di halaman masjid bagian selatan. Bangunan bernama maligi ini pada jaman dahulu digunakan untuk melaksanakan upacara sunat bagi keluarga Pura Mangkunegaran. Khusus untuk bentuk arsitekturnya, bangunan masjid ini masih mengacu pada bentuk masjid Jawa dengan atap berbentuk tumpang yang bersusun tiga. Bangunan serambi juga berarsitektur jawa dengan bentuk atap limasan. Setiap tiang dan dinding masjid mempunyai relief kaligrafi yang berbeda-beda. Berkenaan dengan sejarahnya, hingga sekarang tidak ada sumber tertulis yang memberikan penjelasan secara rinci tentang sejarah keberadaannya. Hanya satu sumber yang hingga saat di gunakan yaitu prasasti yang dipasang pada dinding depan masjid. Selebihnya hanya informasiri mulut ke mulut yang belum dapat dipastikan kebenarannya. Pada masa kekuasaan Mangkunegaran I konon beliau membangun masjid di bagian utara kompleks Pura Mangkunegaran sekarang ini yaitu di sebelah barat kawasan pasar Legi. Pada daerah tersebut hingga sekarang masih disebut dengan kampung Kauman yang menandakan sebagai tempat tinggal kaum ulama atau santri. Hanya saja pada kampung ini sekarang tidak ada satu artefak yang dapat dirujuk keterangan tersebut.

Masjid Laweyan Solo

Masjid ini merupakan masjid tertua di Kota Solo. Dibangun pada masa Kerajaan Pajang di bawah pemerintahan Sultan Hadiwijaya atau yang lebih dikenal dengan nama Joko Tokingkir 1546. Sebelum menjadi masjid, bangunan yang terletak di  Kampung Belukan, Kecamatan Laweyan, Solo, ini merupakan pura agama Hindu. Pemiliknya bernama Ki Beluk. Ki Beluk adalah sahabat karib Ki Ageng Henis, orang kepercayaan Joko Tingkir. Setelah mulai serangkaian diskusi panjang mengenai Islam dengan Ki Ageng Henis, Ki Beluk akhirnya masuk Islam dan menyerahkan pura miliknya untuk dijadikan masjid. Seiring perjalanan waktu, bangunan pura yang dijadikan bangunan masjid itu pun mengalami beberpa proses renovasi dan perluasan. Masjid ini memiliki pertalian sejarah yang sangat erat dengan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat karena Ki Ageng Henis tidak lain merupakan kakek dari Susuhunan Pakoe Boewono II. Jajak sejarah ini dikukuhkan dengan adanya kompleks makan kerbat Keraton Pajang, Kartasura, dan Kasunanan Surakarta yang berada di samping masjid. Kini Masjid yang berada di Kampung Batik, Laweyan tidak pernah sepi dari jemaah.

Inilah sebagian dari warna-warni yang ada di solo, begitu khas, besejarah dan bernilai tinggi. Bagi teman-teman yang ada di solo kurang lengkap rasanya kalau belum tahu wisata solo yang sangat berharga ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s