Ketika Professionalitas Dosen Dipertanyakan

Di tengah terpuruknya peradaban bangsa, gencarnya informasi, dan lepasnya sekat antar bangsa lewat teknologi informasi, peran pendidik kian strategis untuk mengambil salah satu peran yang menopang pada tegaknya peradaban manusia Indonesia di waktu yang akan datang. Sebuah harapan yang meniscaya, tidak cukup dengan verbalitas tetapi dibutuhkan kerja professional, kreatifitas dan efektifitas untuk mencapai cita-cita yang ditargetkan.

Pendidik merupakan pekerjaaan yang amat mulia. Ia berhadapan dengan anak-anak manusia yang akan menentukan masa depan bangsa. Betapa berat beban yang disandangkan pada seorang pendidik. Peran pendidik yang strategis, menuntut kerja pendidik yang profesional, dan mampu mengembangkan ragam potensi yang terpendam dalam diri anak didik. Sedemikian besar peran pendidik dalam melakukan perubahan terhadap peradaban lewat anak-didik yang akan menentukan masa depan. Kondisi yang kemudian memicu terbitnya Undang Undang Guru dan Dosen untuk mensejahterakan dan memproteksi kehidupan pendidik.

Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNS merupakan salah satu lembaga pendidikan yang berfungsi mencetak generasi pendidik yang berkualitas sesuai dengan tuntutan zaman dan profesional sesuai dengan jargonnya yaitu berkarakter kuat dan cerdas. Sebagai pencetak generasi pendidik, peran tersebut tak lepas dari profesional para pendidik di FKIP UNS itu sendiri.

Ironis sekali ketika FKIP UNS dengan jargon ”Berkarakter Kuat dan Cerdas” memiliki tenaga pendidik yang belum profesional. Hal ini terbukti dengan masih ada beberapa dosen yang kurang disiplin, baik dalam masalah disiplin waktu maupun nilai. Tidak banyak dosen yang kadang tidak datang pada waktu seharusnya mereka mengajar tanpa konfirmasi atau dengan konfirmasi tapi telat, padahal para mahasiswanya sudah menungggu sekian menit baru ada konfirmasi bahwa mata kuliah ditiadakan karena dosennya berhalangan sebab alasan ini dan itu. Parahnya ada dosen yang hutang ngajar tapi tidak diganti, yang seharusnya dalam satu semester ada 14 pertemuan tatap muka, bisa berkurang 25% nya, 50% nya bahkan 75 % nya. Kalau hal seperti ini terjadi secara terus menerus maka yang paling dirugikan dari keadaan ini adalah mahasiswa. Ada kasus mahasiswanya sampai bingung apa yang harus dia pelajari tentang mata kuliah tertentu saat ujian yang sebentar lagi akan berlangsung, hal ini terjadi karena dosennya jarang datang sehingga mereka tidak tahu materi apa dan mana yang mesti di pelajari. Belum lagi ada juga dosen yang kurang disiplin dalam masalah penilaian, kurang adanya acuan yang tepat tentang penilaian yang ia lakukan. Ada kasus dimana penilaian hanya berlangsung dengan subjektifitas dosennya, bahkan ada yang lebih bermasalah yaitu berdasarkan urutan absen, jadi absen pertama sampai 10 dapat nilai A, 11 sampai 20 dapat B dan begitu seterusnya, ataupun dengan sistem acak.

Selain itu tidak jarang dosen yang masih memakai media pembelajaran yang bisa dibilang tidak sesuai dan ketinggalan zaman sehingga membuat proses pembelajaran begitu membosankan dan tidak menantang. Contohnya masih ada dosen yang memakai transparansi OHP yang sudah tidak layak, tulisannya tidak jelas dan merupakan transparansi yang materinya dari tahun berapa ke tahun berapa. Tidak sedikit juga dosen yang soal-soalnya, yang dia keluarkan tidak berkembang dari tahun ke tahun, soal tahun 2004 – 2007 sama bahkan ada yang sama persis, walaupun saya sebagai mahasiswa tidak mau jadi orang yang naif, kasus ini memang menguntungkan dari segi mahasiswa, mahasiswa tidak perlu belajar dengan rumit dan kompleks, cukup mempelajari soal-soal tahun kemarin dan membaca sedikit materi yang didapat maka permasalahan belajar selesai, tapi na’as juga bagi yang tidak tahu atau tidak mendapatkan soal-soal tahun kemarin yang harus belajar dari nol, tapi kalu hal ini di biarkan maka kualitas calon pendidik seperti apa yang diharapkan.

Sekarang mari kita bandingkan dengan prinsip profesionalitas guru dan dosen yang diatur dalam UU No.14 tahun 2005 pasal 7 ayat 1 yang diantaranya :

  1. Memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketakwaan, dan ahlak mulia.
  2. Memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan.

Dan kita bandingkan denga UU guru dan Dosen No.14 tahun 2005 tentang kewajiban seorang pendidik, diantaranya :

  1. Merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran.
  2. Meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
  3. Bertindak obyektif dan tidak diskriminatif atas dasar pertimbangan jenis kelamin, agama, suku, ras, dan kondisi fisik tertentu, atau latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi perserta didik dalam pembelajaran.

Dari kasus-kasus yang tertera diatas maka cukup banyak dosen di FKIP UNS yang kurang profesional dan tidak menjalan UU yang berlaku tentang keprofesionalannya dan kewajibannya sebagai seorang pendidik. Apakah mereka lupa dengan semua itu ataukah kenyamanan telah melenakan mereka sehingga mematikan kreativitas dan jiwa keprofesionalan yang dimiliki mereka. Saya teringat akan jargon perbaikan 3M (Mulai dari diri sendiri, Mulai dari hal yang kecil, dan Mulai dari sekarang). Jadi ketika FKIP UNS menginginkan cetakan generasi yang ”Berkarakter Kuat dan Cerdas” maka sangatlah bijaksana ketika tuntutan itu bukan hanya diletakkan dipundak mahasiswa tapi tugas kepofesionalan untuk menjadikan pendidikan lebih baik ada ditangan seluruh elemen yng berhubungan dengan pendidikan itu sendiri tanpa terkecuali para dosen dan steak holder lainnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s