Flavor of Love

Ini ringkasan quote yang paling aku suka dari novel “Flavor Of Love” Sejuta Rasa Cinta by. al Dhimas

Trauma atas kegagalan pernikahan kedua orang tua turut ambil bagian sebagai faktor penyebab keengganan seseorang menikah. Membuat mereka berfikir daripada mengulang sejarah buruk perkawinan kedua orang tuanya lebih baik memilih urung menikah

It’s not easy, I know that. Tapi ggak semua orang mengalami kegagalan yang sama. Liat aja, para pendaki gunung. Sebagian dari mereka gagal mencapai puncak, tapi nggak sedikit juga yang berhasil.

Have you realized that youe’re luccky ?! Trauma masa lalu itu pelajaran berharga untuk kalian bawa sebagai bekal untuk nggak diulangi. Ibaratnya kalo ujian, kalian sudah terlebih dulu memperoleh kisi-kisi sehinga tidak akan kesulitan saat menghadapi soal-soal sulit, Jadi manfaatkan hal itu dengan berkata .. why not ?!

You were created to be a fighter. Apapun dan bagaimanapun sakitnya trauma yang pernah kalian alami, berjuanglah demi sesuatu yang lebih baik. You like others, deserved to love and be loved. Cinta akan membantu kalian mengalahkan trauma yang kalian punya dan memperoleh kebahagiaan kelak. So fight for it !

The only way to true happiness is to live in the moment and not to worry about the future.

Basically, manusia diciptakan sebagai mahluk sosial. Mereka beradaptasi dan berinteraksi. Menemukan teman untuk berbagi cerita, baik suka maupun duka. Sayangnya, seperti musim yang terus berganti, teman selalu datang dan pergi. Mau nggak mau, manusia mencari apa yang disebut pasangan hidup. Seseorang yang siap menemani sampai waktunya habis di muka bumi.

Dan pernikahan adalah jawaban semua itu. Bukan hanya untuk memberikan perlindungan hukum, tapi juga sebuah pengakuan dan kepastian. Pengakuan dan kepastian bahwa ada seseorang yang siap menjaga dan berbagi sepenuh hati sampai akhir hayat nanti. Bukankah itu yang semua orang cari ?!

Nggak boleh asal memilih dan dipilih. Banyak proses yang harus dijalani sebelum menentukan keputusan. Tidak ada perbedaan gender di sini. Pria atau perempuan sama-sama memilikii keinginan untuk menemukan The Right Match yang siap mencintai dan dicintai.

Perempuan mungkin lebih sensitif soal cinta, tapi bukan berarti para pria tidak membutuhkan hal yag sama. Para pria pun mempercayai cinta dan berusaha mencari oang yang tepat untuk mendampiginya seumur hidup. And when he findse her, yang perlu dilakukannya cuma satu. Menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan “will you marry me?”

Tak ada seseorangpun yang ingin gagal dalam membina rumah tangga, so they or we want to marry the best. Klo memang harus menunggu sedikit lama untuk memasangkan dan dipasangan cincin pada orang yang tepat, why not ?!

Rasanya sama seperti menunggu keberangkatan pesawat. Tiket sudah ditangan, tapi kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi. Pesawat bisa berangkat tepat waktu, terlambat satu jam, 2 jam atau mungkin berangkat keesokan hari karena buruknya cuaca.

Tidak perlu khawatir ataupun cemas. Selama tiket berada di tangan, dapat dipastikan kita akan berangkat disaat yang paling tepat.

It’s all in the timing. You gotta add chocolate before you put cupcake into the oven.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s